Warung Kopi
Disini
ketika senja datang. Tidak ada lagi cahaya, selain sinar rembulan. Beberapa
rumah warga telah dialiri listrik. Anak-anak kecil tampak berlarian, menenteng
mushaf ditangan sebelah kanannya. Anak lelaki memakai kopiah anak peremuan memakai hijab. Anak-anak
tersebut baru pulang mengaji dari mesjid.
Jalanan
mulai lengang, begitupun dengan udaranya yang menusuk ke tulang-tulang. Jafar
melanjutkan langkah kakinya. Mengikuti orang tua yang menuntunnya. Bagi Jafar
kehidupan di desa ini benar-benar berbeda. Di malam hari, satu-satunya hiburan
hanyalah warung kopi buk Lasmi dan bapak Saso.
Warung
kopi ini sangat sederhana. Berbeda dengan kompetitornya di ibukota. Menunya
sangat berbeda dengan berbagai warung kopi di ibu kota seperti starbuck,
excelco, kapal api dan sejenisnya. Di warung kopi ini hanya ada dua jenis yakni
kopi hitam pait dan pekat. Begitupun dengan menu makanannya tidak ada burger,
dan roti lainnya. Hanya ada bolu dan goreng pisang.
Yang
menjaga kopinya juga tidak ramah, tidak menanyakan dan berucap “Selamat datang
dikedai kami, mau pesan apa?”. Pak Saso dan Dindin hanya mengantarkan kopi
kemeja lalu pergi begitu saja. Meminum kopi sambil menonton televisi 14 inci. Rasanya
memang sudah menjadi hiburan di desa ini.
Udara
memang dingin, namun tidak dengan pembicaraan bapak-bapak disini yang hangat
bahkan mulai memanas. Beberapa tampak seperti berdebat kusir. Tahun ini, pemilu
pilkada akan dimulai secara serentak. Mereka berdebat tentang siapa yang akan
diunggulkan. Bahkan dengan terang-terangan mencari tim sukses di warung kopi
dengan imbalan sanak saudaranya akan diangkat menjadi tenaga honorer atau pns
di kantor pemerintahan.
Namun,
tidak dengan bapak Sandi. Ia duduk menepi mendekatiku. Memanggil bu Lasmi untuk
menambah kopinya. Lalu Didin dengan sigap mengantarnya. Aku berfikir ia akan
mengotori fikiranku dan membujuk agar memberikan uang sebagai dana kampanye
seperti bapak lainnya. Ternyata aku salah bapak Sandy tetap diam dengan seribu
bahasa dan memerhatikan dengan seksama tontonan di televisi yang merupakan
sebuah acara talkshow berupa debat politik. Tampaknya acara itu lebih menarik
perhatiannya.
Setelah
menghabiskan waktu selama dua jam, orang tua itu kembali membawaku pulang.
Sekarang aku sadar bahwa benar, pernyataan temanku kampanye berupa propoganda
yang terkenal dengan black campaing itu
ada. Dan sekarang aku siap memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar memilih
pemimpin yang bersih, jujur mencalonkan diri bukan atas kepentingan tetapi
kepedulian yang membawa perubahan.
Dirumah
orang tua, dibawah sinar rembulan. Aku memerhatikan beberapa teman sudah
tertidur dengan lelap. Kami baru beberapa hari disini, sebagai anak KKN aku
sekarang sudah tau bagaimana menjalankan strategi komunikasi yang baik agar diterima
warga. Yakni memulai semua pembicaraan diwarung kopi. Malam semakin larut, aku
mulai mengantuk semoga esok hari teman-temanku menerima ideku membicarakan
program kerja (proker KKN) di warung kopi.
Comments
Post a Comment