Lewat tulisan kita menyatu
Assalamu’alaykum
Beberapa
bulan yang lalu aku mengikuti kompetisi menulis cerpen. Meskipun belum ahlinya
dalam hal menulis mencoba dan selalu mencoba adalah yang terbaik. Meskipun
belum masuk dominasi favorit atau sesuai kriteria dari yang ngadain lomba izinin aku untuk mempublikasikan pada blog ini
ya teman-teman. Besar harapan ada masukan yang membangun. Berikut cerpennya “Lewat Tulisan Kita Menyatu” :
Lelaki itu selalu cool, lebih sering menghabiskan jam
istirahat dengan buku-buku sastrawan masa lampau. Pandangannya selalu sinis.
Penuh tatapan kosong dan setiap ada perempuan cantik berdiri dihadapannya
selalu dihindari sebisa mungkin. Sangat
jarang tersenyum kepada orang sekitarnya lebih sering menghindar dan mengelak. Entah
sejak kapan aku menemukan tulisannya dikoran dan blog pribadinya namun sejak
saat itu aku tak pernah melewatkan sedikit pun tulisannya.
Setiap minggu pagi aku
selalu bersemangat menuju warung pinggir jalan dekat gang rumahku. Jika tidak
aku akan berjalan sedikit lebih jauh, dan memasuki gang beberapa komplek
perumahan hanya untuk membeli koran. Aku selalu merasa dekat dan bisa
bercakap-cakap dengannya. Lelaki itu adalah seorang kolumnis dikoran nasional
dan bergengsi pula.
Bahkan aku juga merasa
bercaka-cakap dengannya ketika membaca blog pribadinya. Lelaki bermata sipit
yang selalu menghabiskan waktunya dengan buku. Meskipun jarang tampil dikeramaian
sekolah ia adalah idola ratu sekolah. Sangat berbeda dengan lelaki umumnya.
Kak Nadia namanya idola
SMA Pertiwi. Bang Dimas yang populer saja, mati-matian mengejarnya tetapi gak
pernah diterima oleh kak Nadia. “Apa kurangnya bang Dimas coba?”. Anak basket
dan futsal sekolah, ketua osis yang kepopulerannya nomor satu disekolah
dikenali guru, adik kelas dan disegani teman satu angkatannya. Perfect banget deh.
Setiap duduk dikantin, saat
sarapan lontong buk Imah dan tidak lupa bakwannya yang rasanya number
uno teman-teman satu angkatan selalu membicarakan bang Dimas seakan ia
menjadi sosok yang sentral sekali disekolah. Tetapi kekurangan bang Dimas
menurutku hanya satu tidak bisa menaklukan hati kak Nadia. Idola sekolahan,
ratu sekolah yang kecantikannya bak cleopatra kata orang-orang. Bagiku biasa
saja, tetapi badan kak Nadia memang oke sih. Tinggi semampai dan berat ideal. Good looking banget. Berbeda dengan aku,
yang gendut berhidung pesek hidup lagi tapi kata orang-orang imut. Narsis
sedikit hihi.
Sebagai perempuan yang
hidupnya setengah-setengah. Setengah-setengah suka novel, novel autobiografi
dan sastra bahkan menulis di blog yang pembacanya sedikit aku sering
keperpustakaan. Meminjam tiga buku dalam seminggu kadang selesai kadang enggak
bacanya. Lebih sering kena denda lagi karena telat balikin bukunya.
Aku sering melihat kak
Nadia menemui bang Reza. Lelaki bermata sipit, sering menatap kosong dan sinis
itu bernama Reza. Seperti seorang mati
rasa ia selalu mengelak saat kak Nadia menjumpainya yang menawarkan senyum
terbaiknya kepada lelaki itu.
Dalam hati aku berfikir
jangan-jangan abang ini gak waras, gak ada selera humor. Meskipun begitu aku
selalu merasa bercakap-cakap dengannya setiap kali tulisannya terbit dikoran
dan postingan barunya diblog yang membahas berbagai buku, puisi dan terkadang personal lifenya. Setiap kali membaca
tulisannya aku selalu berfikir dia orang yang baik, cerdas dan romantis. “What romantis?. Bukaaan”. Aku berbicara
pada diri sendiri.
Pagi ini seperti biasa
aku telat lagi kesekolah dan disuruh bersihin pekarangan sekolah baru boleh
masuk kelas. Satu kelas menertawakanku ketika memasuki kelas, dan ketika hendak
meletakkan tas kedalam laci meja dengan santainya aku berteriak saat suasana
hening dan khitmat. Yang membuat buk Mira emosi karena lagi konsentrasi
menerangkan dipapan tulis. Selama jam mata pelajaran matematika aku dihukum
tegak didepan kelas. “Minggu kemaren, kamu lagi ya Salma buat masalah. Mau
dikasih nilai merah kamu ?”. Ucap buk Mira dengan wajah garangnya.
Setelah jam matematika
selesai Mutia memberiku air mineral sambil berkata “udah senyumin aja, aku ada
ide nih buat balas dendam”. “Emang kamu tau siapa yang meletakkan mainan
ular-ularan dilaci mejaku Mut?,” tanyaku padanya. “Taulah. Angga. Siapa lagi?,”
jawab Mutia dengan percaya diri.
Lima menit kemudian
Mutia pun membisikkan sesuatu ditelingaku. Aku pun mempraktekkan ide dari
Mutia. Ketika jam istirahat sebelum keperpus aku pun meletakkan permen karet
diatas kursi Angga. Alhasil saat ia berdiri tiba-tiba kesusahan bergerak dan
celananya dipenuhi oleh permen karet yang membuat anak-anak satu kelas tertawa.
“1-1 sama”, ucapku dalam hati.
Pagi ini hari minggu
dengan sigap aku mengayuh sepeda menuju loper koran dan warung yang menjual
koran. Kalau berjalan kaki aku takut kehabisan korannya. Dan setelah membolak-balik halaman koran hari ini aku tak melihat foto dan
tulisan bang Reza. “Kenapa tulisannya gak terbit?” tanyaku pada diri sendiri.
Juga diblog gak ada postingan baru.
Bak seorang kekasih yang
tidak mendapat kabar dari pacarnya hari itu aku sangat lesu sekali. Mau
ngapa-ngapain malas. Akhirnya pada siang harinya kuputuskan ketoko buku
langganan dekat pasar. Setelah pamit
pada ibuk yang sibuk merajut dan bapak yang menghabiskan waktu liburnya membaca
koran. Aku berangkat.
“Siang pak Saswi, ada
buku puisi dari Aan Mansyur gak pak? yang dibacakan dalam film AADC2,”. “Wah kalau
buku itu kelihatannya belum datang dek Putri, tapi kalau buku-buku traveliing lagi banyak nih,”. “Yaudah
deh pak, kalau gitu buku-buku lama aja, buku buya Hamka, Chairul Anwar sama
Marah Roesli ada gak pak ?”. “Ooo ada dek, coba dilihat dirak sebelah sana”.
Akupun berjalan mundur,
hingga akhirnya langkah kakiku terhenti. Sepertinya punggungku telah menabrak
rak buku pak Saswi. Dan ketika menoleh kebelakang ternyata bukun rak buku pak Saswi.
Pipiku memerah jantungku berdegub lebih
kencang dari biasanya. Seorang lelaki bermata sipit, yang aku umpat dan maki
diam-diam didalam hati berdiri didepanku. Dan bodohnya ketika aku menatap
wajahnya sekilas didalam hati aku mengakui bahwa lelaki ini ganteng juga. Dan
sekarang tersenyum kepadaku. “Maaf
maaaf,” ucapku terbata-bata. “Iya gak apa-apa lain kali hati-hati ya,”
jawabnya. “Oh, iya nama saya Reza”, ucapnya. Sambil melemparkan tangan
kananya untuk berjabat tangan. Aku pun menyambut tangan tersebut dan berujar “Putri”
balasku.
Hari itu lelaki bermata
sipit, memiliki pandangan sinis dan yang sering kuumpat mati rasa itu tersenyum kepadaku. Dan semua
yang ada difikiranku tentangnya mulai berubah. Namun sejak perkenalan itu aku
tidak pernah lagi melihat bang Reza disekolah. Bahkan hingga hari kelulusan
anak kelas tiga aku tidak melihat nama kak Reza dipapan kelulusan.
Hingga akhirnya
kuputuskan untuk melihat namanya sendiri dipapan pengumuman kelulusan.
Seseorang mengangetkanku “Siapa nama panjangnya Put?”. “Ehmmm gak ada bang cuma
liat-liat nama kakak tingkat saja aku masih kelas X”. “Oo gitu, kalau gitu
permisi ya abang mau cari nama abang nih,”. “Ya Allah abang dia memanggil
dengan sebutan abang” ucapku dalam hati sambil kegirangan dan berjalan
menjauhinya.
Tiba-tiba Mutia menepuk
bahuku. “Lo kenapa gitu kayak cacing kepanasan?”. Btw abang-abang yang tadi
cakep juga,”. “Liat yang bening aja mata lo terang Mut, kantin yook” ucapku
untuk mengalihkan isu. Percakapan
diantara aku dan bang Reza hanya dua kali dan sejak saat itu aku merasakan
seperti ada perasaan aneh. Perasaan kagum, karena aku penyuka tulisannya
sehingga aku jatuh hati. Sesuatu yang gak bisa dibiarkan. Jadi kenapa?
perdebatan terjadi diotakku. Namun sejak saat itu aku tidak pernah lagi bertemu
bang Reza. Hingga hari ini aku tidak lagi bersama Mutia, karena kita memilih
kampus dan jurusan berbeda. Aku memilih Yogya dan Mutia memilih Bandung.
Namun saat aku
celingukkan bak orang bingung melihat prosedur daftar ulang seorang lelaki
berbicara denganku. ”Ada yang bisa dibantu?,”. “Bang Reza ?,” aku berkata
sambil kegirangan. Namun saat itu bang Reza dengan seorang perempuan hitam
manis, matanya sipit, pipinya chubby pakai jilbab lagi. “Atau
jangan-jangan udah nikah,” masih berbicara dengan diri sendiri. Sampai bang
Reza kembali berbicara. “Kenalin sepupu abang Put,”. “Gak nyangka ya kita jumpa
disini,”. “Hmm iya bang,”. Jawabku.
“Masih sering ketoko
buku bapak Saswi?,”. “Kalau setahun ini jarang sih bang, lebih sering berkutat
dengan buku-buku TPA dan SBMPTN,” jawabku datar. “Kuliah disini juga bang ?,”
tanyaku. “Iya tapi sudah lulus dan kerja,”. “Wah berarti coumlaude dong bang, “
balasku. “Enggak kebetulan ngambil D3 biar bisa cepat kerja, kan laki-laki
banyak tanggung jawab yang harus diemban,” jawabnya. “Bang aku duluan ya, udah
dekat kostan ini,”. “Oh, iya ya Assalamualaikum,”.
Akupun berlari memasuki
kamar kost. Di dalam kamar aku gak tau mau melakukan apa. Setelah tiga tahun
berpisah kerena ketika duduk dikelas 1 bang Reza kelas 3. Dan sekarang
dipertemukan dikota yang sama. Apakah perasaan ku masih tetap sama. Lalu
bagaimana dengan Zaki. Lelaki yang dekat denganku sekarang. Jujur sebenarnya
percakapan dengan bang Reza juga biasa-biasa saja. Aku yang terlalu bawa
perasaan bisa jadi bang Reza biasa-bisa saja terhadapku. Ingatan ku muncul
kembali membawa aku pada tiga tahun yang lalu ketika kak Nadia selalu berusaha
mengejar-ngejar bang Reza namun bang Reza selalu buang muka. Apalagi aku yang
biasa-biasa saja bukan tipe bang Reza.
Pagi itu aku ingin
berangkat kekampus lebih cepat agar bisa keperpustakaan. Namun seorang lelaki berdiri dipagar kostan. Bang
Reza tersenyum kepada ku. “Mau membohongi perasaan lagi ya Put,”. “Maksudnya
bang?.” jawabku seolah tak mengerti.
“Kamu kan yang
memerhatikan saya diam-diam diperpustakaan SMA dahulu?,”. “Adik kelas yang
sering mengintip saya lewat rak buku dan diam-diam mengikuti saya keluar
perpustakaan,”. Aku masih mematung didepan kost dan belum sempat bicara bang
Reza masih menyambung perkataannya. “ Sampai kapan mau membohongi perasaan Put,
aku bukan laki-laki yang suka menggombal dan mengejar perempuan tapi saya
berani membuat komitmen Put,”.
Aku berdiri mematung, kali
ini aku yang menatap dengan tatapan kosong namun penuh harapan. Putri perempuan
yang hidupnya setengah-setengah dalam menyukai sesuatu. “Ya Allah semalam aku
mimpi apa, bagaimana mungkin bang Reza mengetahui isi hatiku selama ini,” bicara didalam
hati. ”Tapi bang ucapku sambil terbata-bata dan mengeluarkan handpone dari dalam tas. Lalu memberikan
nomor handphone bapak sedangkan mulut dan otakku seperti terkunci dan tidak
bisa berkata apa-apa lagi.
Comments
Post a Comment