Laman

24 Maret 2016

MODEL PRAKTIK PR (Public Relation's)



Sedari awal buat blog pengen banget ceritain tentang mbak Yolan. Mbak Yolan merupakan salah satu dosen favorit aku dikampus kalo boleh jujur sebenarnya setiap awal semester aku selalu berdoa agar mbak Yolan dapat jadwal mengajar dikelas. Dan sepertinya ALLAH  ngabulin doa aku, terbukti selama tiga semester berturut-turut mbak Yolan selalu mengajar dikelas PR D Ahahahha
.
Tadi pas masuk kelas bukannya dimarahin karena telat malah dibencandaain. ”Teman-teman semua udah pada mandi kan ? “ hihihihi. Datang telat plus duduk di belakang tapi tetap semangat belajar adalah nilai plus yang akan di dapat ketika melihat mbak Yolan ngajar. Gimana gak semangat kalo dosennya juga semangat pas ngasih materi.Pada kesempatan kali ini aku akan sharing tentang pembelajaran mata kuliah hari ini :

Sejarah Public Relations bermula ketika seorang jurnalis yang bernama Ivy Lee membantu menyelesaikan permasalahan pada perusahaan tambang di Amerika Serikat.Ivy Lee bekerja bukan sebagai staff PR tetapi sebagai top manajemen yang menyelesaikan permasalahan diperusahaan tambang tersebut .

Bicara tentang praktik PR ada empat model Praktik PR menurut Gruning :
1.      Model agensi pers atau model propaganda
Secara praktik PR pada tahap ini melakukan propaganda melalui komunikasi searah untuk tujuan memberikan publisitas yang menguntungkan, terutama ketika berhadapan  dengan media massa. Walaupun terkadang pemberian informasinya tidak jujur sebagai upaya memanipulasi hal negatif atas lembaga atau organisasinya.

2.      Model informasi publik
Dalam hal ini PR bertindak sebagai Journalist in residence, artinya bertindak sebagai wartawan dalam menyebarluaskan informasi kepada publik dan mengendalikan berita atau informasinya kepada media massa. Bentuk ini lebih baik dan mengandung lebih banyak kebenaran karena penyebarannya melalui news latter, brosur dan surat langsung (direct mail).

Kedua model diatas termasuk model asimetris. Kedua model tersebut pernah dimanfaatkan oleh Ivy L. Lee, praktisi konsultan dan perintis Humas Amerika Serikat, untuk mengatasi pemogokan buruh di Industri batu bara pada tahun 1906. Penyampaian pesannya tidak berdasarkan riset dan perencanaan.

3.      Model asimetris dua arah (two way asymmetrical model)
      Pada tahap ini, pihak PR dalam praktiknya melalui penyampaian pesannya berdasarkan hasil riset dan strategi ilmiah (scientific strategy) untuk berupaya membujuk publik, agar mau kerja sama, bersikap dan berpikir sesuai dengan harapan organisasi.

4.      Model simetris dua arah (two way symmetrical model)
Model ini, PR melakukan kegiatan bersadarkan penelitian dan menggunakan teknik komunikasi untuk mengelola konflik dan memperbaiki pemahaman publik secara strategi (Grunig, 1992 : 18)
Jika ditelaah dari keempat model PR diatas yang paling baik adalah modelsimetrisduaarah karena praktisi PR bekerja berdasarkan riset yakni penelitian komunikasi kemudian merespon kepentingan publik dan disampaikan kepada organisasi (top manajemen)sehingga terjalin suatu sinergi baik antara dua kepentingan.Biasanya Praktik PR seperti ini dilakukan oleh perusahaan atau organisasi yang sudah mapan karena pada kenyataannya apalagi di Indonesia praktek PR lebih sering bersifat “si pemadam kebakaran “ .

Kedudukan PR di dalam suatu instansi(lembaga) atau perusahaan tergantung bagaimana organisasi tersebut meletakkan PR.Bagaimana pun juga PR harus diletakkan dalam posisi yang penting karena perubahan lingkungan bisnis dan publik yang awalnya pasif menjadi aktif.

Bagi perusahaan tambang atau perkebunan seorang PR dituntut untuk menjadi lebih aktif, karena bagaimana pun juga hampir diseluruh perusahaan tambang atau perkebunan sering terjadi konflik dengan masyarakat.Mbak Yolan memberikan contoh perusahaan CEVRON memiliki lahan bersifat zona merah namun masih ditempati oleh masyarakat.Perusahaan tentunya tidak boleh langsung menggusur masyarakat yang tinggal disana.Karena bisa jadi telah tinggal berpuluh-puluh tahun lamanya.Disini PR harus mampu memberikan pengertian kepada publiknya jika mereka terus tinggal disana dan sewaktu-waktu terjadi kebocoran atau ledekan mereka dapat mengalami kerugian.Negosiasi dan pendekatan kepada tokoh masyarakat secara berulang-ulang menjadi salah satu cara yang dilakukan oleh PR tanpa  kekerasan dan manipulasi informasi. Pada praktiknya PR sebenarnya harus mampu menampung aspirasi publik kemudian disampaikan kepada Organisasi sehingga tercapai tujuan bersama,karena bagaimanapun setiap organisas,instansi(lembaga) atau perusahaan tak akan mampu hidup tanpa dukungan dari publiknya.

Mohon maaf atas segala keterbatasan materi,karena masih belajar.Thanks for reading semoga bermanfaat
Posting Komentar